• Meori View
  • Meori View
  • Meori View
  • Meori View
  • Meori View
  • Meori View
  • Meori View
  • Meori View
  • Meori View
Home

Who's Online

We have 2 guests online

Login Form



News-news

Powered by Meori-agro@2010

 
Standard Organik vs Sertifikat Organik PDF Print E-mail
Written by meoriagro   
Thursday, 25 June 2015 08:15

Standard Organik vs Sertifikat Organik

Tahukah anda bahwa jika kita mengkonsumsi produk organik, maka secara tidak langsung kita telah memberikan kontribusi penyelamatan bumi melalui pertanian atau kebun organik ?. Hal ini karena sistem pertanian organik dapat menjaga kesehatan dan keseimbangan lingkungan baik untuk saat ini maupun saat mendatang.

Setiap langkah yang mengedepankan perlakuan organik yang baik dan benar patut mendapat dukungan semua pihak. Pertanian organik membutuhkan integritas pelaku dalam menerapkan standar organik yang baik dan benar. Tanpa memiliki pengetahuan tentang standar organik yang baik dan benar, sulit untuk mendapatkan produk dengan integritas organik yang tinggi.

Bagaimana mengetahui suatu pertanian organik telah menerapkan standar organik yang baik dan benar?

Yang paling mudah dengan melihat label organik yang dicantumkan pada kemasannya. Cara penulisan label organik yang benar disertai dengan nomor registrasi di bagian. Pelaku organik berhak menggunakan label organik jika telah disertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Organik (LSO). Dalam hal ini konsumen memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada LSO bahwa produk tersebut memenuhi standar organik. Tentunya untuk mendapatkan sertifikasi organik diperlukan biaya yang lumayan, sehingga pada umumnya yang memiliki sertifikasi organik adalah pelaku dengan lahan yang luas atau karena persyaratan konsumen (misal untuk kebutuhan ekspor). Sertifikasi organik mempunyai masa laku yang seyogyanya diperpanjang sebelum habis masa lakunya. LSO Indonesia umumnya memberikan masa laku 3 tahun, sedangkan LSO di luar negeri umumnya 1 tahun.

Label Organik Indonesia,

penulisannya harus mencantumkan

nomor registrasi di bawah label


Bagi pertanian organik kecil, sertifikasi organik menjadi sangat mahal sekali disamping sistem administrasi pertanian kecil masih kurang tertata rapih. Karena itu, pada umumnya pelaku organik kecil tidak memiliki sertifikat organik. Namun tidak berarti tidak menerapkan standar organiknya dengan baik dan benar.

Ada dua kategori pelaku organik kecil yang menerapkan standar organik namun tidak harus memiliki sertifikasi organik, yaitu :

PARTICIPATORY GUARANTEE SYSTEM (PGS)


Yaitu pelaku organik kecil yang tergabung dalam kelompok tani yang menyusun sendiri standar organik untuk kelompok tersebut dan setiap anggota saling memastikan anggota lain untuk menerapkan standar organik dengan baik dan benar. Tentunya standar organik yang dibuat tidak boleh lebih rendah dari standar organik nasional. Integritas setiap anggota akan menentukan kredibilitas PGS.

COMMUNITY SUPPORTED AGRICULTURE (CSA)


Yaitu pelaku organik kecil yang mendapat dukungan dari komunitas atau kelompok konsumen untuk menerapkan standar organik dengan baik dan benar. Standar organik dibuat sendiri oleh pelaku (juga tidak boleh lebih rendah dari standar organik nasional). Anggota komunitas atau konsumen dapat berpartisipasi atau sekedar mengunjungi lokasi pertanian sekaligus untuk menanamkan keyakinan keorganikan yang dijalankan. Dalam beberapa hal, komunitas dapat memberikan bantuan finansil yang akan dikembalikan dalam bentuk pengiriman rutin sayuran.

Dari penjelasan di atas, pelaku PGS dan CSA dituntut memiliki pengetahuan organik yang memadai, karena bertindak sebagai pelaku organik sekaligus sebagai “LSO” sendiri.

Jadi, sebetulnya produk organik tidak selalu harus memiliki sertifikasi organik. Yang paling utama adalah menerapkan standar organik dengan benar dan jujur, sehingga produk yang dihasilkan merupakan produk organik sekaligus memberikan kontribusi pelestarian alam. Standar organik berlaku untuk siapa pun yang menjalankan pertanian organik, namun label organik hanya untuk pelaku yang memiliki sertifikat organik dari LSO. Hal ini karena Pemerintah mewajibkan kepada semua pelaku organik baik besar maupun kecil untuk memiliki sertifikasi organik sehingga berhap menggunakan label organik. Kita berharap Pemerintah lebih lunak memberlakukan kewajiban sertifikasi organik dengan cara mengajak semua pertanian organik kecil untuk menerapkan dengan benar standar organik serta mengajak pertanian non-organik untuk beralih ke pertanian organik. Tentunya kelompok ini tidak diperkenankan menggunakan label organik. Dengan demikian, pertanian organik kecil tidak akan mati karena ketidakmampuan memiliki sertifikasi organik. Justru sebaliknya akan semakin banyak pertanian organik bermunculan.
Bagaimana kita yakin bahwa integritas organik diterapkan baik di Sertifikasi Organik, PGS atau CSA? Mengingat di atas kertas dan di lapangan bisa saja terdapat perbedaan.

“Know Your Farmer, Know Your Food” mengajak konsumen untuk mengetahui lebih banyak pelaku atau produsen organik. Prinsip Pertanian Organik dari IFOAM mengajarkan sikap adil dan sikap peduli yang berujung pada kesehatan fisik, mental, sosial dan ekologi. Kenali produsen anda, kenali petani anda, maka anda akan dapat memutuskan integritas produk organiknya

 

 

 

Last Updated on Thursday, 25 June 2015 08:40
 
Organik Vs Kimia PDF Print E-mail
Written by meoriagro   
Wednesday, 24 June 2015 08:50

ORGANIK Vs KIMIA

Masyarakat mulai banyak yang menyadari betapa pentingnya kesehatan, sehingga sedikit banyak mulai berfikir tentang makanan organik. Makanan organik adalah makanan yang dikembangkan/ diproduksi secara alami, tanpa obat-obatan, tanpa rekayasa genetika, tanpa hormon pertumbuhan, tanpa antibiotik, tanpa vaksinasi, dll. Pada intinya, makanan organik adalah makanan yang diproduksi secara alami, kembali lagi pada apa yang telah dilakukan nenek moyang kita ratusan tahun lalu. Namun makanan yang diproduksi dengan cara ini tidaklah mudah, sehingga hasil produksinya terbatas dan harganya tentu jauh lebih mahal. Lalu benarkah makanan organik lebih baik dan sehat daripada makanan konvensional atau non-organik?

PERBEDAAN

Perbedaan utama antara makanan organik dan makanan non-organik menurut Mayo Clinic adalah :

  • Pupuk kimia digunakan pada kebanyakan makanan produksi konvensional untuk mempercepat pertumbuhan tanaman, sedangkan tanaman organik hanya menggunakan pupuk alami seperti pupuk kandang atau kompos.
  • Tanaman pangan pada umumnya disemprot dengan insektisida sintetis, tetapi makanan organik menggunakan metode alami untuk mengatasi masalah hama dan serangga.
  • Produk konvensional menggunakan herbisida untuk mengatasi masalah gulma, sementara organik menggunakan tanaman lain, mengolah tanah, penyiangan, merotasi tanaman, dll untuk mematikan atau mengendalikan gulma.
  • Ternak pada umumnya menggunakan antibiotik, hormon pertumbuhan, dan obat-obatan untuk mencegah penyakit dan memacu pertumbuhan hewan ternak. Sementara ternak organik hanya menerima pakan organik dan hanya menggunakan langkah-langkah pencegahan untuk membantu meminimalkan penyakit.

Manfaat makanan organik bagi kesehatan

Lebih sedikit mengandung pestisida

Pestisida adalah bahan kimia seperti fungisida, herbisida, dan insektisida. Bahan kimia ini banyak digunakan dalam pertanian konvensional, dan residu akan tetap menempel pada makanan yang kita makan. Sisa pestisida ini bahkan tidak bisa dihilangkan dengan proses mencuci, karena bisa terserap oleh akar dan mengendap didalam tumbuhan. Residu pestisida ini merupakan neurotoksin yang meracuni syaraf. Karena terbebas dari bahan kimia, tanaman pangan organik pasti lebih sehat dalam jangka panjang.

Lebih segar dan bertahan lama.

Makanan organik biasanya lebih segar dan lebih lezat saat dimakan. Makanan yang dibudidayakan secara alami ini juga bisa bertahan lebih lama, sehingga sekaligus meminimalisasi penggunaan bahan pengawet.

Lebih bergizi

Selain rasanya yang lebih lezat, makanan organik menurut penelitian juga lebih tinggi jumlah nutrisinya. Sebuah studi yang dilaporkan organic.org menunjukkan bahwa buah-buahan dan sayuran organik mengandung 27% lebih banyak vitamin C, 21,1% lebih banyak zat besi, 29,3% lebih banyak magnesium, 13,6% lebih banyak fosfor, dan 18% lebih banyak polyphenol. Para peneliti telah menemukan bahwa asam salisilat rata-rata lebih banyak 600% didalam sup organik, dan sup wortel organik mengandung 1.040 nanogram salisilat, jika dibandingkan dengan sup wortel non-organik yang hanya 20 nanogram. Daging organik juga sedikit mengandung lemak jenuh, dan yang lebih banyak adalah lemak sehat.

Tidak mengandung antibiotik

Hewan organik tidak diberikan antibiotik, hormon pertumbuhan, atau makanan buatan dari bahan sampingan/limbah. Penggunaan antibiotik dalam produksi hewan ternak pedaging akan menciptakan strain bakteri baru yang resisten terhadap antibiotik. Hal ini berarti bahwa ketika seseorang jatuh sakit karena strain ini, maka ia akan kurang merespon terhadap pengobatan antibiotik.

Tidak direkayasa secara genetika

Dengan kemajuan teknologi, rekayasa genetika untuk pangan kini sudah menjadi hal yang biasa untuk meningkatkan produksi. Penelitian menyebutkan bahwa tikus dilaboraorium yang diberi jagung hasil rekayasa genetika mengembangkan tumor diotak dan akhirnya mati. Makanan organik adalah satu-satunya makanan yang bebas dari hasil persilangan.

Pertanian organik lebih ramah bagi lingkungan.

Pertanian organik terbukti mengurangi polusi (udara, air dan tanah), menghemat air, mengurangi erosi, meningkatkan kesuburan tanah, dan menggunakan lebih sedikit energi. Selain itu, pertanian organik lebih baik bagi ekosistem yang berada disekitarnya. Pertanian tanpa pestisida juga lebih aman bagi para petani yang mengelola produksi makanan.

Namun makanan non-organik memiliki keuntungan tersendiri, terutama dari segi harganya yang lebih terjangkau. Setiap orang memiliki pilihannya masing-masing, dan bagi yang peduli kesehatan tentu akan memilih yang terbaik. Pastikan Anda membeli produk organik dari produsen bersertifikat organik dan terpercaya.

 

 
Pertanian Organik PDF Print E-mail
Written by meoriagro   
Wednesday, 24 June 2015 08:22

 

Apa itu PERTANIAN ORGANIK ?

 

Menurut sistem standarisasi Indonesia, SNI 01 – 6792 – 2002, definisi dari pertanian organik adalah suatu sistem manajemen produksi yang holistik yang meningkatkan dan mengembangkan kesehatan agroekosistem, termasuk keragaman hayati, siklus biologi, dan aktifitas biologi tanah.

Jadi, secara harfiah jika dijelaskan maka pertanian organik adalah suatu sistem pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dengan menjauhkan petani dari ketergantungan terhadap pihak luar dan meningkatkan produksi dengan jalan memberdayakan potensi lokal yang ada di lingkungan petani dengan tetap bersandar kepada berlangsungnya keragaman hayati dan siklus biologi lingkungan.

Ciri – Ciri Pertanian Organik

Adapun berbagai hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pertanian secara organik antara lain :

 

a. Dokumentasi

Dokumentasi yang dimaksud disini adalah MENCATAT SECARA TERATUR DAN DETAIL segala proses yang dilakukan selama melaksanakan budidaya pertanian. Yang didokumentasikan antara lain :

- Sejarah penggunaan lahan sebelum dikonversikan sebagai lahan pertanian organik

- Segala hal yang berkaitan dengan status penggunaan lahan, seperti pemilik, penyewa (jika disewa),

dan luas maupun kondisi situasi lahan (peta situasi, topografi, dsb)

- Pelaksanaan kegiatan pengolahan tanah

- Pelaksanaan proses budidaya mulai dari pembibitan (bibit, jumlah bibit, asal bibit, tanggal

pembibitan,perlakuan sebelum semai, perlakuan sebelum tanam), penanaman (jumlah tanaman,

tanggal tanam), penyiangan (waktu penyiangan,dll),perawatan dan pemeliharaan (serangan OPT dan

cara pengendaliannya, bahan yang digunakan,dosis, jumlah serangan, dll), pemupukan (pupuk yang

digunakan, dosis, waktu dan intensitas penberian pupuk), pemanenan (waktu panen dan hasil

produksi)

- Pasca panen, mulai dari pengemasan, pengepakan, penghitungan hasil, dan penjualan serta pasar

b. Lahan

Syarat – syarat yang harus diperhatikan tersebut antara lain :

1. Lahan yang akan digunakan dalam usaha pertanian secara organik haruslah BEBAS dari BAHAN

KIMIA SINTETIS baik yang berasal dari pupuk maupun pestisida

2. Jika lahan yang akan digunakan dalam usaha pertanian organik berasal dari lahan yang sebelumnya

untuk usaha pertanian non organik (konvensional), maka lahan tersebut harus dikonversikan terlebih

dahulu dengan ketentuan sebagai berikut :

- Untuk tanaman semusim diperlukan waktu konversi (recovery) lahan minimal 2 (dua) tahun dan untuk tanaman tahunan diperlukan waktu selama 3 (tiga) tahun, selain itu juga tergantung kepada kepada kondisi lahan yang akan digunakan tetapi waktunya tidak boleh kurang dari 12 (dua belas) bulan

- Lahan yang sedang dalam konversi (recovery) tidak boleh di rubah bolak balik antara organik dan

konvensional

- Jika lahan yang akan digunakan adalah satu hamparan namun konversi (recovery) lahan tidak dilakukan secara bersamaan maka perlu ada pemisahan yang tegas antara lahan organik dan non organik untuk menghindari terjadinya kontaminasi dari lahan non organik ke lahan organik.

 

c. Benih dan Bibit

Untuk pelaksanaan pertanian organik kita juga harus memperhatikan benih dan bibit yang akan kita gunakan.Antara lain :

1. Benih dan bibit tidak boleh berasal dari produk rekayasa genetika (GMO)

2. Benih dan bibit yang digunakan untuk pertanian organik harus berasal dari produk pertanian organik

d. Manajemen Kesuburan Tanah

Hal – hal yang harus ditaati berkaitan dengan kesuburan tanah antara lain :

1. Kesuburan dan aktivitas biologis tanah harus dijaga atau ditingkatkan dengan cara :

2. Mematuhi atauran maupun larangan yang berkaitan dengan penggunaan bahan untuk penyubur

tanah yang direkomendasikan maupun dilarang dalam pertanian organik

 

e. Pengendalian Hama, Penyakit dan Gulma

Jika dalam pertanian non organik pengendalian terhadap hama, penyakit dan gulma bisa dilaksanakan dengan menggunakan berbagai macam bahan sintetis maka dalam pertanian organik ada hal – hal yang harus dipatuhi, yaitu :

1.Hama, penyakit dan gulma harus dikendalikan

2.Jika serangan hama dan penyakit sangat berat dan tindakan yang dilakukan dengan cara – cara

tersebut diatas dianggap kurang memadai maka dapat digunakan bahan –bahan lain yang

diperbolehkan dalam pertanian organik.

 

f. Peternakan

Pada pertanian organik dianjurkan untuk mengkombinasikan budidaya tanaman dengan usaha peternakan. Keuntungan yang bisa didapatkan antara lain :

1. Petani tidak lagi tergantung dengan sumber pupuk dari luar karena sudah memiliki sumber pupuk

sendiri dan tidak terbatas

2. Sebagai salah satu upaya daur ulang nutrisi tanah karena makanan ternak bisa didapatkan dari sisa

tanaman dan kotoran ternak dikembalikan ke tanah sebagai pupuk

3. Diversifikasi usaha dari petani sebagai salah tambahan pemasukan bagi petani

g. Sumber Air

Dalam pertanian organik, ketersediaan air yang permanent adalah satu hal yang tidak bisa di tawar – tawar. Salah satu jalan keluar adalah dengan menyiapkan kolam penampungan air (embung) di lahan yang diusahakan.

 

 

 

Last Updated on Wednesday, 24 June 2015 08:32
 
Pupuk Organik dan Hayati PDF Print E-mail
Written by Olivia Mersylia Tombe   
Monday, 25 May 2015 00:00

Apa Itu Pupuk Organik dan Hayati?

Lahan marginal dapat diartikan sebagai lahan yang memiliki mutu rendah karena memiliki beberapa faktor pembatas jika digunakan untuk suatu keperluan tertentu. Sebenarnya faktor pembatas tersebut dapat diatasi dengan masukan, atau biaya yang harus dibelanjakan. Tanpa masukan yang berarti budidaya pertanian di lahan marginal tidak akan memberikan keuntungan. Ketertinggalan pembangunan pertanian di daerah marginal hampir dijumpai di semua sektor, baik biofisik, infrastruktur, kelembagaan usahatani maupun akses informasi untuk petani miskin yang kurang mendapat perhatian.

Setiap tanaman memerlukan paling tidak 16 unsur atau zat untuk pertumbuhannya yang normal, dari 16 unsur tersebut, tiga unsur (C,O,H) diperoleh dari udara, dan 13 unsur lainnya diperoleh dari tanah (N, P, K, Ca, Mg, S, Cl, Fe, Mn, Cu, Zn, B, Mo). Dari ke-13 unsur tersebut hanya enam unsur yang diambil tanaman dalam jumlah besar (unsur makro) yaitu N, P, K, S, Ca, dan Mg. Unsur hara utama yang banyak dibutuhkan tanaman tetapi jumlah atau ketersediaanya sering kurang atau tidak mencukupi di dalam tanah ialah N, P, dan K. Oleh karena itu ketiga unsur ini ditambahkan dalam bentuk pupuk.

Pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.

Pupuk organik atau bahan organik tanah merupakan sumber nitrogen tanah yang utama, selain itu peranannya cukup besar terhadap perbaikan sifat fisika, kimia biologi tanah serta lingkungan. Pupuk organik yang ditambahkan ke dalam tanah akan mengalami beberapa kali fase perombakan oleh mikroorganisme tanah untuk menjadi humus atau bahan organik tanah.

Pupuk organik juga dibutuhkan oleh pertanian konvensional untuk memelihara kelestarian lahan, memperbaiki kesuburan fisik, kimia, dan biologis tanah yang bersangkutan. Penggunaan pupuk organik mampu menjadi solusi dalam mengurangi aplikasi pupuk anorganik yang berlebihan dikarenakan adanya bahan organik yang mampu memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Darmawan (2005) menyatakan pemupukan yang salah dapat mengakibatkan inefisiensi pada proses produksi. Perbaikan terhadap sifat fisik yaitu menggemburkan tanah, memperbaiki aerasi dan drainase, meningkatkan ikatan antar partikel, meningkatkan kapasitas menahan air, mencegah erosi dan longsor, dan merevitalisasi daya olah tanah. Fungsi pupuk organik terhadap sifat kimia yaitu meningkatkan kapasitas tukar kation, meningkatkan ketersediaan unsur hara, dan meningkatkan proses pelapukan bahan mineral. Adapun terhadap sifat biologi yaitu menjadikan sumber makanan bagi mikroorganisme tanah seperti fungi, bakteri, serta mikroorganisme menguntungkan lainnya, sehingga perkembangannya menjadi lebih cepat (Hadisuwito, 2008). Pupuk organik disamping dapat menyuplai hara NPK, juga dapat menyediakan unsur hara mikro sehingga dapat mencegah kahat unsur mikro pada tanah marginal atau tanah yang telah diusahakan secara intensif dengan pemupukan yang kurang seimbang.

Pupuk hayati digunakan sebagai nama kolektif untuk semua kelompok fungsional mikroba tanah yang dapat berfungsi sebagai penyedia hara dalam tanah, sehingga dapat tersedia bagi tanaman. Mikroorganisme dalam pupuk mikroba yang digunakan dalam bentuk inokulan dapat mengandung hanya satu strain tertentu atau monostrain. Pupuk hayati juga dapat berarti suatu bahan yang mengandung mikroorganisme bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah dan kualitas hasil tanaman, melalui peningkatan aktivitas biologi yang akhirnya dapat berinteraksi dengan sifat fisik dan kimia media tumbuh (tanah).

Mikroorganisme yang umum digunakan sebagai bahan aktif pupuk hayati ialah mikroba penambat nitrogen, pelarut fosfat dan pemantap agregat. Pupuk hayati bukanlah pupuk biasa yang secara langsung meningkatkan kesuburan tanah dengan menambahkan nutrisi ke dalam tanah. Pupuk hayati menambahkan nutrisi melalui proses alami, yaitu fiksasi nitrogen atmosfer, menjadikan fosfor bahan yang terlarut, dan merangsang pertumbuhan tanaman melalui sintesis zat-zat yang mendukung pertumbuhan tanaman.

Mikroorganisme dalam pupuk hayati mengembalikan siklus nutrisi alami tanah dan membentuk material organik tanah. Melalui penggunaan pupuk hayati, tanaman yang sehat dapat ditumbuhkan sambil meningkatkan keberlanjutan dan kesehatan tanah. Pupuk hayati merupakan salah satu bahan yang sangat penting dalam upaya memperbaiki kesuburan tanah. Penggunaan pupuk hayati tidak akan meninggalkan residu pada hasil tanaman sehingga aman bagi kesehatan manusia. Selain itu penggunaan pupuk hayati diharapkan dapat meningkatkan kesehatan tanah, memacu pertumbuhan tanaman dan meningkatkan produksi tanaman

Salah satu faktor yang menentukan mutu suatu pupuk hayati adalah keefektifan strain strain/spesies-spesies mikroba yang tekandung dalam pupuk hayati. Mikroba tersebut pada dasarnya diisolasi dari tanah kemudian diskrining berdasarkan sifat tertentu yang diinginkan selanjutnya diformulasi sebagai inokulan.

 

Last Updated on Monday, 25 May 2015 09:03
 
«StartPrev1234567NextEnd»

Page 1 of 7